{"id":32302,"date":"2026-07-20T21:32:32","date_gmt":"2026-07-20T14:32:32","guid":{"rendered":"https:\/\/fazz.com\/id\/?p=32302"},"modified":"2026-07-05T21:35:57","modified_gmt":"2026-07-05T14:35:57","slug":"utang-negara-indonesia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/fazz.com\/id\/newsroom\/fazza\/utang-negara-indonesia\/","title":{"rendered":"Utang Negara Indonesia, Jumlah, dan Dampaknya bagi Ekonomi"},"content":{"rendered":"<p>Utang negara Indonesia adalah salah satu topik ekonomi yang paling banyak dibicarakan masyarakat. Angkanya besar, trennya terus bergerak, dan dampaknya terasa hingga ke kehidupan sehari-hari. Namun, tidak sedikit orang yang salah paham tentang apa sebenarnya utang negara itu, bagaimana cara kerjanya, dan apakah kondisi saat ini perlu dikhawatirkan.<\/p>\n<p>Artikel ini menyajikan penjelasan objektif tentang kondisi utang negara Indonesia \u2014 berapa jumlahnya, dari mana sumbernya, bagaimana perbandingannya dengan negara-negara ASEAN, serta apa dampaknya terhadap ekonomi dan keuangan masyarakat.<\/p>\n<h2>Berapa Total Utang Negara Indonesia Saat Ini?<\/h2>\n<p>Per akhir 2024, total utang pemerintah pusat Indonesia mencapai sekitar Rp8.680 triliun, atau setara dengan lebih dari 39% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Angka ini bersumber dari laporan resmi Kementerian Keuangan Republik Indonesia yang dipublikasikan secara berkala melalui <a href=\"https:\/\/www.kemenkeu.go.id\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">kemenkeu.go.id<\/a>.<\/p>\n<p>Penting untuk dipahami bahwa jumlah nominal utang yang besar tidak serta-merta berarti kondisinya berbahaya. Yang lebih relevan untuk dinilai adalah rasio utang terhadap PDB, kualitas pengelolaan utang, serta kemampuan negara dalam membayar kewajiban.<\/p>\n<p>Indonesia memiliki batas hukum rasio utang pemerintah terhadap PDB sebesar 60%, sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara. Dengan rasio sekitar 38\u201340%, Indonesia masih berada jauh di bawah batas tersebut.<\/p>\n<h2>Apa Perbedaan Utang Pemerintah dan Utang Luar Negeri Swasta?<\/h2>\n<p>Banyak orang menyamakan &#8220;utang negara&#8221; dengan &#8220;utang luar negeri Indonesia&#8221; secara keseluruhan. Padahal, keduanya berbeda secara signifikan dan perlu dipahami secara terpisah.<\/p>\n<h3>Utang Pemerintah<\/h3>\n<p>Utang pemerintah adalah kewajiban finansial yang ditanggung oleh pemerintah pusat dalam rangka membiayai APBN. Utang ini digunakan untuk mendanai infrastruktur, layanan publik, subsidi, dan program pembangunan nasional. Pemerintah bertanggung jawab langsung atas pembayaran pokok dan bunganya.<\/p>\n<h3>Utang Luar Negeri Swasta<\/h3>\n<p>Utang luar negeri swasta adalah pinjaman yang dilakukan oleh perusahaan atau lembaga keuangan swasta kepada kreditur asing. Utang ini tidak menjadi beban APBN secara langsung, dan tanggung jawab pembayarannya berada pada entitas swasta yang bersangkutan.<\/p>\n<h3>Utang Luar Negeri Indonesia Secara Keseluruhan<\/h3>\n<p>Bank Indonesia mencatat bahwa total utang luar negeri Indonesia \u2014 yang mencakup utang pemerintah maupun swasta \u2014 secara historis berada pada kisaran USD 400 miliar lebih. Data terkini dapat diakses melalui situs resmi <a href=\"https:\/\/www.bi.go.id\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Bank Indonesia<\/a>. Memahami perbedaan dua komponen ini penting agar masyarakat tidak keliru menginterpretasikan berita ekonomi.<\/p>\n<h2>Sumber-Sumber Utang Negara Indonesia<\/h2>\n<p>Pemerintah Indonesia memperoleh pinjaman dari dua sumber utama: penerbitan surat utang dan pinjaman langsung.<\/p>\n<h3>Surat Berharga Negara (SBN)<\/h3>\n<p>Sebagian besar utang pemerintah bersumber dari penerbitan Surat Berharga Negara (SBN), yang mencakup Surat Utang Negara (SUN) dan Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) atau sukuk negara. SBN diterbitkan di pasar domestik maupun internasional dan dapat dibeli oleh investor individu maupun institusi.<\/p>\n<p>Beberapa instrumen SBN yang tersedia untuk masyarakat umum antara lain Obligasi Ritel Indonesia (ORI), Sukuk Ritel (SR), Savings Bond Ritel (SBR), dan Sukuk Tabungan (ST). Instrumen-instrumen ini memungkinkan masyarakat ikut berpartisipasi dalam pembiayaan negara sekaligus memperoleh imbal hasil.<\/p>\n<h3>Pinjaman Bilateral dan Multilateral<\/h3>\n<p>Pemerintah juga menerima pinjaman langsung dari negara-negara mitra (bilateral) seperti Jepang, Prancis, Jerman, dan Korea Selatan, serta dari lembaga keuangan internasional (multilateral) seperti Bank Dunia, Asian Development Bank (ADB), dan Islamic Development Bank (IsDB).<\/p>\n<p>Pinjaman jenis ini umumnya digunakan untuk proyek-proyek spesifik seperti pembangunan infrastruktur transportasi, sanitasi, pendidikan, dan ketahanan pangan. Suku bunganya biasanya lebih rendah dibanding obligasi komersial karena bersifat konsesional.<\/p>\n<h2>Rasio Utang terhadap GDP: Apakah Aman?<\/h2>\n<p>Rasio utang terhadap PDB adalah indikator utama untuk menilai kesehatan fiskal suatu negara. Indikator ini mengukur seberapa besar utang pemerintah dibandingkan dengan total output ekonomi negara dalam satu tahun.<\/p>\n<p>Rasio utang Indonesia terhadap PDB berada di kisaran 38\u201340%, jauh di bawah ambang batas 60% yang ditetapkan undang-undang. Dana Moneter Internasional (IMF) umumnya menganggap rasio di bawah 60% sebagai zona yang relatif aman bagi negara berkembang.<\/p>\n<p>Namun, rasio saja tidak cukup untuk menilai risiko. Faktor lain yang penting diperhatikan meliputi:<\/p>\n<ul>\n<li>Komposisi mata uang utang (rupiah vs valuta asing)<\/li>\n<li>Profil jatuh tempo (jangka pendek vs jangka panjang)<\/li>\n<li>Tingkat suku bunga yang berlaku<\/li>\n<li>Kapasitas penerimaan pajak negara<\/li>\n<li>Stabilitas nilai tukar rupiah<\/li>\n<\/ul>\n<p>Kementerian Keuangan secara konsisten mempublikasikan laporan pengelolaan utang yang dapat diakses publik sebagai bentuk transparansi fiskal.<\/p>\n<h2>Perbandingan Utang Indonesia vs Negara ASEAN Lainnya<\/h2>\n<p>Menempatkan utang Indonesia dalam konteks regional membantu memberikan perspektif yang lebih objektif. Berikut adalah perbandingan estimasi rasio utang pemerintah terhadap PDB di negara-negara ASEAN berdasarkan data IMF dan bank sentral masing-masing negara:<\/p>\n<table>\n<thead>\n<tr>\n<th>Negara<\/th>\n<th>Rasio Utang\/PDB (estimasi 2023\u20132024)<\/th>\n<\/tr>\n<\/thead>\n<tbody>\n<tr>\n<td>Singapura<\/td>\n<td>~170% (utang domestik untuk pengembangan pasar modal)<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td>Malaysia<\/td>\n<td>~65%<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td>Thailand<\/td>\n<td>~62%<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td>Filipina<\/td>\n<td>~60%<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td>Vietnam<\/td>\n<td>~37%<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td>Indonesia<\/td>\n<td>~38\u201340%<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td>Kamboja<\/td>\n<td>~35%<\/td>\n<\/tr>\n<\/tbody>\n<\/table>\n<p>Catatan: Rasio utang Singapura yang tinggi bersifat unik karena sebagian besar merupakan utang domestik yang diterbitkan untuk keperluan pengembangan pasar keuangan, bukan untuk membiayai defisit anggaran. Jika dibandingkan secara apple-to-apple, posisi Indonesia tergolong moderat di antara negara-negara ASEAN.<\/p>\n<p>Malaysia dan Thailand memiliki rasio yang lebih tinggi dari Indonesia, namun keduanya juga memiliki kapasitas penerimaan pajak dan basis ekonomi yang berbeda. Perbandingan ini menunjukkan bahwa Indonesia bukan yang paling tinggi berutang di kawasan.<\/p>\n<h2>Tren Utang Negara Indonesia dalam 10 Tahun Terakhir<\/h2>\n<p>Memahami tren utang pemerintah dari waktu ke waktu jauh lebih bermakna daripada sekadar melihat angka terkini. Berikut adalah gambaran tren utang pemerintah Indonesia dalam satu dekade terakhir berdasarkan data Kementerian Keuangan:<\/p>\n<table>\n<thead>\n<tr>\n<th>Tahun<\/th>\n<th>Total Utang Pemerintah (estimasi)<\/th>\n<th>Rasio terhadap PDB<\/th>\n<\/tr>\n<\/thead>\n<tbody>\n<tr>\n<td>2015<\/td>\n<td>Rp3.165 triliun<\/td>\n<td>~27%<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td>2016<\/td>\n<td>Rp3.466 triliun<\/td>\n<td>~28%<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td>2017<\/td>\n<td>Rp3.938 triliun<\/td>\n<td>~29%<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td>2018<\/td>\n<td>Rp4.418 triliun<\/td>\n<td>~30%<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td>2019<\/td>\n<td>Rp4.779 triliun<\/td>\n<td>~30%<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td>2020<\/td>\n<td>Rp6.074 triliun<\/td>\n<td>~39%<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td>2021<\/td>\n<td>Rp6.908 triliun<\/td>\n<td>~41%<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td>2022<\/td>\n<td>Rp7.733 triliun<\/td>\n<td>~39%<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td>2023<\/td>\n<td>Rp8.144 triliun<\/td>\n<td>~38%<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td>2024<\/td>\n<td>Rp8.680 triliun<\/td>\n<td>~39%<\/td>\n<\/tr>\n<\/tbody>\n<\/table>\n<p>Lonjakan paling signifikan terjadi pada 2020, ketika pemerintah memperlebar defisit APBN hingga melampaui 3% PDB sebagai respons terhadap pandemi COVID-19. Kebijakan ini diambil berdasarkan Perppu Nomor 1 Tahun 2020 yang kemudian menjadi UU Nomor 2 Tahun 2020, yang memberikan fleksibilitas fiskal luar biasa selama masa darurat.<\/p>\n<p>Sejak 2022, rasio utang terhadap PDB cenderung stabil bahkan sedikit menurun, menandakan upaya konsolidasi fiskal yang dilakukan pemerintah pascapandemi. Pemerintah berkomitmen untuk kembali ke defisit di bawah 3% PDB, yang secara bertahap menekan laju pertumbuhan utang baru.<\/p>\n<h2>Untuk Apa Utang Negara Digunakan?<\/h2>\n<p>Utang negara bukan sekadar angka di neraca keuangan pemerintah. Dana yang diperoleh digunakan untuk membiayai berbagai program yang berdampak langsung pada kehidupan masyarakat.<\/p>\n<h3>Pembiayaan Infrastruktur<\/h3>\n<p>Sebagian besar utang pemerintah dalam satu dekade terakhir digunakan untuk membangun infrastruktur: jalan tol, pelabuhan, bandara, pembangkit listrik, dan jaringan kereta api. Infrastruktur ini diharapkan meningkatkan konektivitas dan daya saing ekonomi nasional dalam jangka panjang.<\/p>\n<h3>Pembayaran Subsidi dan Perlindungan Sosial<\/h3>\n<p>Dana utang juga digunakan untuk membiayai subsidi energi, subsidi pangan, dan berbagai program perlindungan sosial seperti Program Keluarga Harapan (PKH), Kartu Sembako, dan Kartu Indonesia Pintar (KIP). Program-program ini menjangkau jutaan keluarga berpenghasilan rendah.<\/p>\n<h3>Pembiayaan Defisit APBN<\/h3>\n<p>Setiap tahun, pengeluaran pemerintah melebihi penerimaan pajak dan non-pajak. Selisih inilah yang disebut defisit anggaran, dan utang adalah instrumen utama untuk menutupnya. Defisit bukan sesuatu yang otomatis buruk \u2014 hampir semua negara di dunia menjalankan defisit anggaran pada tingkat tertentu.<\/p>\n<h2>Dampak Utang Negara terhadap Ekonomi Masyarakat<\/h2>\n<p>Utang negara memiliki dampak yang luas dan berlapis terhadap kondisi ekonomi masyarakat, mulai dari inflasi hingga nilai tukar rupiah.<\/p>\n<h3>Dampak terhadap Inflasi<\/h3>\n<p>Ketika pemerintah meningkatkan belanja melalui utang tanpa diimbangi produktivitas ekonomi yang setara, tekanan inflasi dapat meningkat. Dana yang beredar lebih banyak dapat mendorong permintaan barang dan jasa, sehingga harga-harga cenderung naik.<\/p>\n<p>Namun, dampak ini sangat bergantung pada bagaimana dana utang digunakan. Jika utang diinvestasikan pada proyek-proyek produktif yang meningkatkan kapasitas produksi, efek inflasinya cenderung minimal karena pertumbuhan sisi penawaran mengimbangi sisi permintaan.<\/p>\n<h3>Dampak terhadap Nilai Tukar Rupiah<\/h3>\n<p>Utang pemerintah dalam bentuk valuta asing menciptakan kewajiban pembayaran yang harus dilakukan dalam mata uang asing \u2014 terutama dolar AS. Ketika jumlah utang valas besar dan jatuh tempo bersamaan, permintaan terhadap dolar meningkat, yang dapat menekan nilai rupiah.<\/p>\n<p>Pelemahan rupiah, pada gilirannya, meningkatkan beban pembayaran utang valas dalam hitungan rupiah, dan berpotensi mendorong inflasi impor \u2014 yaitu kenaikan harga barang yang komponen impornya signifikan.<\/p>\n<h3>Dampak terhadap Suku Bunga<\/h3>\n<p>Pemerintah yang menerbitkan SBN dalam jumlah besar di pasar domestik dapat bersaing dengan sektor swasta dalam memperebutkan dana masyarakat. Kondisi ini berpotensi mendorong suku bunga naik \u2014 yang berarti kredit menjadi lebih mahal bagi pelaku usaha dan individu.<\/p>\n<h3>Dampak terhadap Anggaran Publik<\/h3>\n<p>Semakin besar utang, semakin besar pula porsi APBN yang harus dialokasikan untuk pembayaran bunga dan pokok utang. Ini berarti ruang fiskal untuk membiayai layanan publik, pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur baru menjadi lebih sempit dari waktu ke waktu.<\/p>\n<h2>Apakah Utang Indonesia Aman? Perspektif Ekonom<\/h2>\n<p>Para ekonom umumnya menilai kondisi utang Indonesia saat ini masih berada dalam batas yang terkelola, dengan beberapa catatan penting.<\/p>\n<p>Dari sisi positif, rasio utang terhadap PDB Indonesia masih di bawah ambang batas 60% yang ditetapkan undang-undang, dan jauh di bawah rata-rata negara maju yang bisa mencapai 100% lebih. Komposisi utang dalam negeri yang semakin besar juga dianggap lebih aman karena mengurangi eksposur terhadap risiko nilai tukar.<\/p>\n<p>Namun, sejumlah risiko tetap perlu diwaspadai. Pertama, beban bunga utang yang terus meningkat menggerus ruang fiskal pemerintah. Kedua, kepemilikan SBN oleh investor asing yang cukup besar menjadikan pasar obligasi Indonesia rentan terhadap gejolak modal keluar (capital outflow) ketika sentimen global memburuk. Ketiga, nilai tukar rupiah yang melemah secara langsung meningkatkan beban utang valas dalam denominasi rupiah.<\/p>\n<p>Lembaga pemeringkat seperti Moody&#8217;s, S&#038;P, dan Fitch secara konsisten memberikan peringkat investment grade kepada Indonesia, yang mencerminkan kepercayaan pasar internasional terhadap kemampuan Indonesia dalam mengelola kewajiban keuangannya. Data dan laporan terkini dari <a href=\"https:\/\/www.ojk.go.id\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Otoritas Jasa Keuangan (OJK)<\/a> juga dapat menjadi referensi untuk memantau kondisi stabilitas keuangan secara berkala.<\/p>\n<h2>Apa yang Bisa Dilakukan Masyarakat di Tengah Dinamika Ekonomi Makro?<\/h2>\n<p>Kondisi utang negara adalah bagian dari dinamika ekonomi makro yang tidak bisa dikendalikan langsung oleh individu. Namun, setiap orang memiliki kendali penuh atas kondisi keuangan pribadinya sendiri.<\/p>\n<p>Di tengah ketidakpastian ekonomi \u2014 baik karena tekanan inflasi, pergerakan nilai tukar, maupun kebijakan suku bunga \u2014 langkah paling bijak adalah memperkuat fondasi keuangan pribadi. Ini mencakup membangun dana darurat, mendiversifikasi simpanan, dan memilih instrumen keuangan yang memberikan imbal hasil nyata di atas inflasi.<\/p>\n<p>Fazza hadir sebagai platform keuangan digital yang membantu masyarakat mengelola dan mengembangkan keuangan pribadi dengan lebih cerdas. Dengan produk tabungan berbunga tinggi dan simpanan berjangka yang transparan, Fazza memudahkan siapa saja untuk mulai mengamankan keuangan pribadi \u2014 tanpa kerumitan perbankan konvensional.<\/p>\n<p>Unduh aplikasi Fazza sekarang dan mulai kelola keuanganmu dengan lebih bijak:<\/p>\n<ul>\n<li><a href=\"https:\/\/play.google.com\/store\/apps\/details?id=com.fazz.fazza_android&#038;referrer=utm_source%3DPR%26utm_medium%3DSEO%26utm_campaign%3Dfazza_SEO\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Download Fazza di Google Play Store<\/a><\/li>\n<li><a href=\"https:\/\/apps.apple.com\/id\/app\/fazza-tabungan-bunga-tinggi\/id6737800864?pt=SEO&#038;ct=SEO&#038;mt=SEO\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Download Fazza di App Store<\/a><\/li>\n<\/ul>\n<h2>FAQ: Utang Negara Indonesia<\/h2>\n<details>\n<summary><strong>Apakah utang negara berarti setiap warga negara menanggung utang tersebut?<\/strong><\/summary>\n<p>\n    Tidak secara langsung. Utang pemerintah dibayar menggunakan penerimaan negara, seperti pajak dan sumber pendapatan lainnya. Artinya, masyarakat berkontribusi melalui penerimaan negara, tetapi utang tersebut bukan merupakan kewajiban pribadi yang harus dibayar oleh setiap warga negara secara langsung.\n  <\/p>\n<\/details>\n<details>\n<summary><strong>Apa bedanya utang pemerintah dengan utang luar negeri Indonesia?<\/strong><\/summary>\n<p>\n    Utang pemerintah adalah pinjaman yang menjadi kewajiban pemerintah pusat. Sementara itu, utang luar negeri Indonesia mencakup seluruh pinjaman luar negeri yang dimiliki oleh pemerintah, Bank Indonesia, dan sektor swasta. Dengan demikian, nilai utang luar negeri Indonesia secara keseluruhan biasanya lebih besar dibandingkan utang pemerintah saja.\n  <\/p>\n<\/details>\n<details>\n<summary><strong>Apakah utang negara Indonesia bisa menyebabkan krisis seperti tahun 1998?<\/strong><\/summary>\n<p>\n    Kondisi saat ini berbeda dengan krisis ekonomi tahun 1998. Saat itu, krisis dipicu oleh berbagai faktor, termasuk tingginya utang swasta dalam valuta asing, lemahnya sistem perbankan, dan gejolak nilai tukar. Meski demikian, pemerintah tetap perlu mengelola utang secara hati-hati karena faktor ekonomi global, perubahan suku bunga, dan fluktuasi nilai tukar tetap dapat memengaruhi kondisi perekonomian.\n  <\/p>\n<\/details>\n<details>\n<summary><strong>Bagaimana cara masyarakat memantau perkembangan utang negara?<\/strong><\/summary>\n<p>\n    Masyarakat dapat memantau perkembangan utang negara melalui laporan resmi yang diterbitkan oleh Kementerian Keuangan, seperti laporan APBN bulanan, serta data yang dipublikasikan oleh Bank Indonesia mengenai utang luar negeri. Seluruh informasi tersebut tersedia secara terbuka melalui kanal resmi pemerintah.\n  <\/p>\n<\/details>\n<details>\n<summary><strong>Apakah utang negara dalam rupiah lebih aman daripada utang dalam dolar?<\/strong><\/summary>\n<p>\n    Secara umum, utang dalam rupiah memiliki risiko nilai tukar yang lebih rendah karena pembayarannya menggunakan mata uang yang sama dengan sebagian besar penerimaan negara. Sebaliknya, utang dalam mata uang asing memiliki risiko tambahan karena beban pembayaran dapat meningkat apabila nilai tukar rupiah melemah terhadap mata uang tersebut.\n  <\/p>\n<\/details>\n<details>\n<summary><strong>Mengapa pemerintah tidak mengurangi utang dengan mencetak uang lebih banyak?<\/strong><\/summary>\n<p>\n    Mencetak uang secara berlebihan untuk membayar utang dapat memicu inflasi yang tinggi dan mengganggu stabilitas ekonomi. Oleh karena itu, kebijakan pencetakan uang dilakukan secara hati-hati oleh bank sentral dengan mempertimbangkan kondisi ekonomi dan tujuan menjaga stabilitas nilai rupiah.\n  <\/p>\n<\/details>\n<details>\n<summary><strong>Apa dampak utang negara terhadap generasi muda Indonesia?<\/strong><\/summary>\n<p>\n    Utang negara yang digunakan saat ini akan menjadi bagian dari tanggung jawab fiskal di masa depan. Namun, apabila utang tersebut dimanfaatkan untuk investasi produktif seperti pembangunan infrastruktur, pendidikan, dan layanan kesehatan, manfaatnya juga dapat dirasakan oleh generasi muda melalui peningkatan kualitas ekonomi dan pelayanan publik.\n  <\/p>\n<\/details>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Utang negara Indonesia adalah salah satu topik ekonomi yang paling banyak dibicarakan masyarakat. Angkanya besar, trennya terus bergerak, dan dampaknya terasa hingga ke kehidupan sehari-hari. Namun, tidak sedikit orang yang salah paham tentang apa sebenarnya utang negara itu, bagaimana cara kerjanya, dan apakah kondisi saat ini perlu dikhawatirkan. Artikel ini menyajikan penjelasan objektif tentang kondisi [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":19,"featured_media":32303,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[592],"tags":[298,214,41,587,133],"class_list":["post-32302","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-fazza","tag-articles","tag-bahasa","tag-fazz","tag-fazza","tag-indonesia"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v27.6 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Utang Negara Indonesia, Jumlah, dan Dampaknya bagi Ekonomi<\/title>\n<meta name=\"description\" content=\"Berapa utang negara Indonesia? Pelajari sumber utang, rasio terhadap GDP, perbandingan dengan negara ASEAN, dan dampaknya terhadap ekonomi masyarakat.\" \/>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/fazz.com\/id\/newsroom\/fazza\/utang-negara-indonesia\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_GB\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Utang Negara Indonesia, Jumlah, dan Dampaknya bagi Ekonomi\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Berapa utang negara Indonesia? Pelajari sumber utang, rasio terhadap GDP, perbandingan dengan negara ASEAN, dan dampaknya terhadap ekonomi masyarakat.\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/fazz.com\/id\/newsroom\/fazza\/utang-negara-indonesia\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Fazz Indonesia\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2026-07-20T14:32:32+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/fazz.com\/id\/wp-content\/uploads\/sites\/3\/2026\/07\/6550.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1000\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"638\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Nida Amalia\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Nida Amalia\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Estimated reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"10 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fazz.com\\\/id\\\/newsroom\\\/fazza\\\/utang-negara-indonesia\\\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fazz.com\\\/id\\\/newsroom\\\/fazza\\\/utang-negara-indonesia\\\/\"},\"author\":{\"name\":\"Nida Amalia\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fazz.com\\\/id\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/d0aade88305529fd856ef79312ffce5f\"},\"headline\":\"Utang Negara Indonesia, Jumlah, dan Dampaknya bagi Ekonomi\",\"datePublished\":\"2026-07-20T14:32:32+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fazz.com\\\/id\\\/newsroom\\\/fazza\\\/utang-negara-indonesia\\\/\"},\"wordCount\":1990,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fazz.com\\\/id\\\/#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fazz.com\\\/id\\\/newsroom\\\/fazza\\\/utang-negara-indonesia\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/fazz.com\\\/id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/sites\\\/3\\\/2026\\\/07\\\/6550.jpg\",\"keywords\":[\"articles\",\"bahasa\",\"fazz\",\"fazza\",\"Indonesia\"],\"articleSection\":[\"Fazza\"],\"inLanguage\":\"en-GB\"},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fazz.com\\\/id\\\/newsroom\\\/fazza\\\/utang-negara-indonesia\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/fazz.com\\\/id\\\/newsroom\\\/fazza\\\/utang-negara-indonesia\\\/\",\"name\":\"Utang Negara Indonesia, Jumlah, dan Dampaknya bagi Ekonomi\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fazz.com\\\/id\\\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fazz.com\\\/id\\\/newsroom\\\/fazza\\\/utang-negara-indonesia\\\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fazz.com\\\/id\\\/newsroom\\\/fazza\\\/utang-negara-indonesia\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/fazz.com\\\/id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/sites\\\/3\\\/2026\\\/07\\\/6550.jpg\",\"datePublished\":\"2026-07-20T14:32:32+00:00\",\"description\":\"Berapa utang negara Indonesia? Pelajari sumber utang, rasio terhadap GDP, perbandingan dengan negara ASEAN, dan dampaknya terhadap ekonomi masyarakat.\",\"inLanguage\":\"en-GB\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/fazz.com\\\/id\\\/newsroom\\\/fazza\\\/utang-negara-indonesia\\\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-GB\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fazz.com\\\/id\\\/newsroom\\\/fazza\\\/utang-negara-indonesia\\\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/fazz.com\\\/id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/sites\\\/3\\\/2026\\\/07\\\/6550.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/fazz.com\\\/id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/sites\\\/3\\\/2026\\\/07\\\/6550.jpg\",\"width\":1000,\"height\":638,\"caption\":\"Utang Negara Indonesia, Jumlah, dan Dampaknya bagi Ekonomi\"},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fazz.com\\\/id\\\/#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/fazz.com\\\/id\\\/\",\"name\":\"Fazz Indonesia\",\"description\":\"Just another Fazz Sites site\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fazz.com\\\/id\\\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/fazz.com\\\/id\\\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"en-GB\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fazz.com\\\/id\\\/#organization\",\"name\":\"Fazz Indonesia\",\"url\":\"https:\\\/\\\/fazz.com\\\/id\\\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-GB\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fazz.com\\\/id\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/fazz.com\\\/id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/sites\\\/3\\\/2022\\\/08\\\/logo-fazz-animate.gif\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/fazz.com\\\/id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/sites\\\/3\\\/2022\\\/08\\\/logo-fazz-animate.gif\",\"width\":250,\"height\":141,\"caption\":\"Fazz Indonesia\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fazz.com\\\/id\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\"}},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fazz.com\\\/id\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/d0aade88305529fd856ef79312ffce5f\",\"name\":\"Nida Amalia\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-GB\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/5b7d1456b4d62193bd23772859a9558bb65916d6acf4664ebe7cf2048c894392?s=96&d=mm&r=g\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/5b7d1456b4d62193bd23772859a9558bb65916d6acf4664ebe7cf2048c894392?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/5b7d1456b4d62193bd23772859a9558bb65916d6acf4664ebe7cf2048c894392?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Nida Amalia\"},\"description\":\"6+ years working in Content Marketing and SEO in various industries such as Travel, Health Tech, SaaS, Fintech, and Education Technology.\",\"url\":\"https:\\\/\\\/fazz.com\\\/id\\\/newsroom\\\/author\\\/nida\\\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Utang Negara Indonesia, Jumlah, dan Dampaknya bagi Ekonomi","description":"Berapa utang negara Indonesia? Pelajari sumber utang, rasio terhadap GDP, perbandingan dengan negara ASEAN, dan dampaknya terhadap ekonomi masyarakat.","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/fazz.com\/id\/newsroom\/fazza\/utang-negara-indonesia\/","og_locale":"en_GB","og_type":"article","og_title":"Utang Negara Indonesia, Jumlah, dan Dampaknya bagi Ekonomi","og_description":"Berapa utang negara Indonesia? Pelajari sumber utang, rasio terhadap GDP, perbandingan dengan negara ASEAN, dan dampaknya terhadap ekonomi masyarakat.","og_url":"https:\/\/fazz.com\/id\/newsroom\/fazza\/utang-negara-indonesia\/","og_site_name":"Fazz Indonesia","article_published_time":"2026-07-20T14:32:32+00:00","og_image":[{"width":1000,"height":638,"url":"https:\/\/fazz.com\/id\/wp-content\/uploads\/sites\/3\/2026\/07\/6550.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Nida Amalia","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"Nida Amalia","Estimated reading time":"10 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/fazz.com\/id\/newsroom\/fazza\/utang-negara-indonesia\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/fazz.com\/id\/newsroom\/fazza\/utang-negara-indonesia\/"},"author":{"name":"Nida Amalia","@id":"https:\/\/fazz.com\/id\/#\/schema\/person\/d0aade88305529fd856ef79312ffce5f"},"headline":"Utang Negara Indonesia, Jumlah, dan Dampaknya bagi Ekonomi","datePublished":"2026-07-20T14:32:32+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/fazz.com\/id\/newsroom\/fazza\/utang-negara-indonesia\/"},"wordCount":1990,"publisher":{"@id":"https:\/\/fazz.com\/id\/#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/fazz.com\/id\/newsroom\/fazza\/utang-negara-indonesia\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/fazz.com\/id\/wp-content\/uploads\/sites\/3\/2026\/07\/6550.jpg","keywords":["articles","bahasa","fazz","fazza","Indonesia"],"articleSection":["Fazza"],"inLanguage":"en-GB"},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/fazz.com\/id\/newsroom\/fazza\/utang-negara-indonesia\/","url":"https:\/\/fazz.com\/id\/newsroom\/fazza\/utang-negara-indonesia\/","name":"Utang Negara Indonesia, Jumlah, dan Dampaknya bagi Ekonomi","isPartOf":{"@id":"https:\/\/fazz.com\/id\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/fazz.com\/id\/newsroom\/fazza\/utang-negara-indonesia\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/fazz.com\/id\/newsroom\/fazza\/utang-negara-indonesia\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/fazz.com\/id\/wp-content\/uploads\/sites\/3\/2026\/07\/6550.jpg","datePublished":"2026-07-20T14:32:32+00:00","description":"Berapa utang negara Indonesia? Pelajari sumber utang, rasio terhadap GDP, perbandingan dengan negara ASEAN, dan dampaknya terhadap ekonomi masyarakat.","inLanguage":"en-GB","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/fazz.com\/id\/newsroom\/fazza\/utang-negara-indonesia\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-GB","@id":"https:\/\/fazz.com\/id\/newsroom\/fazza\/utang-negara-indonesia\/#primaryimage","url":"https:\/\/fazz.com\/id\/wp-content\/uploads\/sites\/3\/2026\/07\/6550.jpg","contentUrl":"https:\/\/fazz.com\/id\/wp-content\/uploads\/sites\/3\/2026\/07\/6550.jpg","width":1000,"height":638,"caption":"Utang Negara Indonesia, Jumlah, dan Dampaknya bagi Ekonomi"},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/fazz.com\/id\/#website","url":"https:\/\/fazz.com\/id\/","name":"Fazz Indonesia","description":"Just another Fazz Sites site","publisher":{"@id":"https:\/\/fazz.com\/id\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/fazz.com\/id\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"en-GB"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/fazz.com\/id\/#organization","name":"Fazz Indonesia","url":"https:\/\/fazz.com\/id\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-GB","@id":"https:\/\/fazz.com\/id\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/fazz.com\/id\/wp-content\/uploads\/sites\/3\/2022\/08\/logo-fazz-animate.gif","contentUrl":"https:\/\/fazz.com\/id\/wp-content\/uploads\/sites\/3\/2022\/08\/logo-fazz-animate.gif","width":250,"height":141,"caption":"Fazz Indonesia"},"image":{"@id":"https:\/\/fazz.com\/id\/#\/schema\/logo\/image\/"}},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/fazz.com\/id\/#\/schema\/person\/d0aade88305529fd856ef79312ffce5f","name":"Nida Amalia","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-GB","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/5b7d1456b4d62193bd23772859a9558bb65916d6acf4664ebe7cf2048c894392?s=96&d=mm&r=g","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/5b7d1456b4d62193bd23772859a9558bb65916d6acf4664ebe7cf2048c894392?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/5b7d1456b4d62193bd23772859a9558bb65916d6acf4664ebe7cf2048c894392?s=96&d=mm&r=g","caption":"Nida Amalia"},"description":"6+ years working in Content Marketing and SEO in various industries such as Travel, Health Tech, SaaS, Fintech, and Education Technology.","url":"https:\/\/fazz.com\/id\/newsroom\/author\/nida\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/fazz.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/32302","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/fazz.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/fazz.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fazz.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/19"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fazz.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=32302"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/fazz.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/32302\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":32304,"href":"https:\/\/fazz.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/32302\/revisions\/32304"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fazz.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/32303"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/fazz.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=32302"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/fazz.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=32302"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/fazz.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=32302"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}