Sertifikat deposito adalah simpanan berjangka yang diterbitkan bank dalam bentuk surat berharga, di mana bukti kepemilikannya dapat dipindahtangankan atau diperjualbelikan kepada pihak lain. Berbeda dengan deposito berjangka biasa, sertifikat ini diterbitkan atas unjuk, sehingga siapa pun yang memegangnya berhak mencairkan dana pada saat jatuh tempo.
Apa Itu Sertifikat Deposito?
Menurut definisi yang digunakan regulator perbankan, sertifikat deposito atau Negotiable Certificate of Deposit (NCD) adalah simpanan dalam bentuk deposito yang sertifikat bukti penyimpanannya dapat dipindahtangankan. Penerbitannya diatur khusus oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melalui aturan tersendiri mengenai penerbitan sertifikat deposito oleh bank, terpisah dari ketentuan deposito berjangka konvensional.
Ciri khas instrumen ini adalah sifatnya yang “atas tunjuk”, artinya nama pemilik dana tidak dicantumkan pada sertifikat. Konsekuensinya, nominal deposito bisa dicairkan oleh siapa pun yang secara fisik memegang sertifikat tersebut, bukan hanya oleh nasabah yang awalnya menyetorkan dana.
Sejarah dan Perkembangannya di Indonesia
Sertifikat deposito sudah lama dikenal dalam sistem perbankan Indonesia sebagai salah satu produk penghimpunan dana selain giro, tabungan, dan deposito berjangka. OJK mengatur penerbitannya melalui Peraturan OJK Nomor 10/POJK.03/2015 tentang Penerbitan Sertifikat Deposito oleh Bank, yang kemudian dilengkapi dengan Surat Edaran OJK sebagai petunjuk teknis pelaksanaannya. Regulasi ini mewajibkan bank menerapkan prinsip perlindungan konsumen dan melaporkan setiap transaksi sertifikat deposito kepada OJK secara berkala.
Seiring waktu, instrumen ini bertransformasi dari sekadar produk simpanan konvensional menjadi salah satu pilihan diversifikasi bagi investor individu yang mencari kombinasi antara keamanan deposito dan fleksibilitas surat berharga.
Perbedaan Sertifikat Deposito vs Deposito Reguler vs Tabungan
Ketiganya sama-sama produk simpanan bank, tetapi memiliki karakteristik yang berbeda secara mendasar.
- Tabungan: penarikan dapat dilakukan sewaktu-waktu sesuai syarat bank, namun tidak menggunakan cek atau bilyet giro.
- Deposito berjangka reguler: dana hanya bisa dicairkan pada waktu tertentu sesuai perjanjian, dan bukti kepemilikannya melekat pada nama nasabah sehingga tidak bisa dipindahtangankan.
- Sertifikat deposito: sama-sama berjangka waktu tertentu, tetapi bukti kepemilikannya berupa sertifikat atas unjuk yang bisa diperjualbelikan sebelum jatuh tempo, dan bunga umumnya dibayarkan di muka saat sertifikat diterbitkan.
Perbedaan mendasar ini penting dipahami karena memengaruhi bagaimana instrumen tersebut bisa digunakan dalam perencanaan keuangan, termasuk soal likuiditas dan potensi risiko jika sertifikat hilang atau berpindah tangan tanpa sepengetahuan pemilik dana awal.
Jenis-Jenis
Sertifikat deposito umumnya diterbitkan dengan jangka waktu 1, 3, 6, hingga 12 bulan. Berdasarkan bentuknya, sertifikat deposito dapat diterbitkan dalam bentuk warkat fisik yang jatuh tempo, maupun tanpa warkat yang tercatat secara elektronik pada Lembaga Penyimpanan dan Penyelesaian (LPP). Selain itu, tersedia pula varian sertifikat deposito berdasarkan prinsip syariah bagi nasabah yang menginginkan skema bagi hasil sebagai pengganti bunga.
Bagaimana Sertifikat Deposito Bekerja?
Mekanismenya dimulai saat nasabah menyetorkan dana kepada bank penerbit dan menerima sertifikat sebagai bukti simpanan. Bunga biasanya dibayarkan di muka pada saat penerbitan, meski beberapa bank juga menawarkan skema pembayaran bulanan atau saat jatuh tempo. Selama masa berjalan, sertifikat tersebut dapat disimpan hingga jatuh tempo atau dijual kepada pihak lain di pasar sekunder.
Jika nasabah menarik dana sebelum jatuh tempo tanpa melalui mekanisme jual-beli, umumnya bank akan mengenakan penalti sesuai kebijakan masing-masing lembaga. Karena itu, sertifikat deposito lebih cocok bagi investor yang memang berencana menyimpan dana sesuai jangka waktu yang disepakati.
Yield dan Return
Salah satu daya tarik utama sertifikat deposito adalah tingkat bunga yang cenderung lebih tinggi dibandingkan tabungan biasa maupun sebagian deposito berjangka standar, karena bank memberikan premi sebagai kompensasi atas komitmen jangka waktu tertentu. Karena bunga dibayarkan di muka, investor bisa mengetahui secara pasti berapa hasil bersih yang akan diterima sejak awal, sehingga memudahkan perencanaan arus kas dibandingkan instrumen dengan imbal hasil mengambang.
Transferability dan Pasar Sekunder
Fitur transferability adalah pembeda paling signifikan dari deposito reguler. Karena diterbitkan atas unjuk, sertifikat deposito dapat dijual kepada investor lain sebelum jatuh tempo, baik langsung kepada bank penerbit maupun melalui perusahaan sekuritas. Fleksibilitas ini menjadikan sertifikat deposito lebih likuid dibanding deposito berjangka konvensional, karena pemilik tidak harus menunggu jatuh tempo atau menanggung penalti pencairan dini jika membutuhkan dana lebih cepat.
Namun, sifat “atas tunjuk” ini juga membawa konsekuensi keamanan. Sertifikat fisik yang hilang atau dicuri berpotensi dicairkan oleh pihak yang tidak berhak, sehingga penyimpanan yang aman menjadi bagian penting dari pengelolaan instrumen ini.
Risiko dan Keamanan
Meski tergolong instrumen berisiko rendah, sertifikat deposito tetap memiliki beberapa risiko yang perlu dipahami investor, di antaranya risiko likuiditas jika kesulitan menemukan pembeli di pasar sekunder, risiko kehilangan fisik sertifikat, serta risiko suku bunga jika kondisi pasar berubah signifikan selama masa berjalan.
Dari sisi perlindungan, dana yang disimpan dalam sertifikat deposito pada bank umum di Indonesia turut dijamin oleh Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), selama memenuhi tiga syarat utama yang dikenal dengan istilah 3T: simpanan tercatat dalam pembukuan bank, tingkat bunga yang diterima tidak melebihi tingkat bunga penjaminan yang ditetapkan LPS, dan nasabah tidak melakukan tindakan yang merugikan kesehatan bank. Saat ini, nilai maksimum simpanan yang dijamin LPS adalah Rp2 miliar per nasabah per bank, sehingga penting bagi investor dengan dana besar untuk mempertimbangkan diversifikasi antar bank agar seluruh simpanan tetap berada dalam batas penjaminan.
Perpajakan
Bunga dari sertifikat deposito termasuk objek pajak final berdasarkan ketentuan Pajak Penghasilan Pasal 4 ayat (2). Tarif yang berlaku adalah 20 persen dari jumlah bruto bunga bagi wajib pajak dalam negeri dan bentuk usaha tetap, sementara wajib pajak luar negeri dikenakan tarif yang sama atau mengikuti tarif dalam perjanjian penghindaran pajak berganda yang berlaku.
Karena sifatnya final, pajak ini langsung dipotong oleh bank pada saat bunga dibayarkan, sehingga nasabah tidak perlu melaporkannya kembali sebagai penghasilan kena pajak dalam SPT tahunan. Sebagai gambaran, jika bunga bruto yang diterima dalam satu periode adalah Rp10 juta, maka pajak yang dipotong sebesar Rp2 juta, dan nasabah menerima bunga bersih Rp8 juta.
Cara Membeli Sertifikat Deposito
Sertifikat deposito dapat diperoleh melalui dua jalur utama:
- Membeli langsung dari bank penerbit saat penerbitan perdana, umumnya memerlukan setoran minimum tertentu sesuai kebijakan bank.
- Membeli di pasar sekunder melalui perusahaan sekuritas, tanpa perlu memiliki rekening di bank penerbit terlebih dahulu, sehingga lebih praktis bagi investor yang sudah aktif bertransaksi di pasar modal.
Sebelum membeli, penting untuk memeriksa profil bank penerbit, tingkat bunga yang ditawarkan dibandingkan tingkat bunga penjaminan LPS, serta jangka waktu yang sesuai dengan kebutuhan likuiditas.
Sertifikat Deposito Sebagai Jaminan Pinjaman
Salah satu keunggulan lain sertifikat deposito adalah dapat dijadikan agunan atau jaminan kredit di bank. Karena nilainya relatif stabil dan bank penerbit memiliki catatan resmi atas penerbitannya, banyak lembaga keuangan menerima sertifikat deposito sebagai jaminan pinjaman dengan proses yang cenderung lebih cepat dibandingkan agunan aset fisik. Fitur ini menjadikan sertifikat deposito bukan sekadar produk simpanan pasif, melainkan juga alat likuiditas cadangan saat nasabah membutuhkan dana tunai tanpa harus mencairkan simpanan sebelum jatuh tempo.
Sertifikat Deposito vs Saham vs Obligasi
Dibandingkan saham dan obligasi, sertifikat deposito umumnya menawarkan profil risiko yang lebih rendah karena bunga sudah ditetapkan sejak awal dan tidak berfluktuasi mengikuti kondisi pasar. Saham berpotensi memberikan imbal hasil lebih tinggi, tetapi juga membawa risiko fluktuasi harga yang signifikan. Obligasi berada di posisi tengah, dengan kupon tetap namun harga pasar yang bisa naik-turun sebelum jatuh tempo.
Bagi investor yang mengutamakan kepastian imbal hasil dan perlindungan modal, sertifikat deposito bisa menjadi komponen stabil dalam portofolio, sementara saham dan obligasi lebih cocok untuk mengejar pertumbuhan atau pendapatan tambahan dengan toleransi risiko yang lebih tinggi.
Peran Sertifikat Deposito dalam Diversifikasi Portofolio
Dalam strategi alokasi aset, sertifikat deposito sering ditempatkan sebagai bagian dari porsi aset berisiko rendah yang menyeimbangkan instrumen berisiko lebih tinggi seperti saham atau reksadana saham. Kombinasi antara imbal hasil yang terprediksi, kemudahan transfer kepemilikan, dan fungsinya sebagai agunan menjadikan instrumen ini fleksibel untuk investor yang ingin menjaga likuiditas tanpa sepenuhnya melepas potensi bunga kompetitif.
Bagi nasabah yang menginginkan pengalaman menabung berjangka yang transparan, tanpa perlu berurusan dengan sertifikat fisik dan proses transfer manual, produk deposito digital seperti yang tersedia di aplikasi Fazza menawarkan alternatif yang lebih sederhana. Bunga kompetitif dan proses pembukaan yang dilakukan sepenuhnya melalui aplikasi membuat perencanaan simpanan berjangka menjadi lebih mudah dipantau kapan saja.
FAQ
Apakah sertifikat deposito bisa dicairkan sebelum jatuh tempo?
Bisa, tetapi mekanismenya bergantung pada ketentuan bank penerbit. Umumnya, sertifikat deposito dapat dialihkan atau dijual kepada pihak lain melalui pasar sekunder. Jika ingin dicairkan langsung ke bank sebelum jatuh tempo, nasabah biasanya akan dikenakan penalti atau ketentuan khusus sesuai kebijakan yang berlaku.
Apakah bunga sertifikat deposito lebih tinggi dari deposito biasa?
Pada banyak kasus, sertifikat deposito menawarkan tingkat imbal hasil yang lebih tinggi dibandingkan deposito berjangka biasa. Hal ini karena instrumen tersebut memiliki karakteristik yang dapat dipindahtangankan (transferable). Meski demikian, besaran bunga tetap bergantung pada kebijakan masing-masing bank serta kondisi suku bunga yang berlaku di pasar.
Apa risiko utama memegang sertifikat deposito fisik?
Risiko utama sertifikat deposito fisik adalah kehilangan atau pencurian dokumen. Pada beberapa jenis sertifikat deposito yang diterbitkan atas unjuk, pihak yang memegang sertifikat dapat memiliki hak untuk mencairkannya sesuai ketentuan yang berlaku. Oleh karena itu, penyimpanan dokumen di tempat yang aman menjadi hal yang sangat penting.
Berapa modal minimum untuk membeli sertifikat deposito?
Nilai minimum pembelian sertifikat deposito berbeda-beda pada setiap bank. Secara umum, nominal awal yang disyaratkan lebih tinggi dibandingkan setoran minimum deposito biasa dan sering kali berada pada kisaran puluhan juta rupiah. Karena itu, instrumen ini lebih banyak dimanfaatkan oleh nasabah dengan dana investasi menengah hingga besar.
Apakah sertifikat deposito cocok untuk pemula?
Sertifikat deposito umumnya lebih sesuai bagi investor yang telah memahami cara kerja instrumen perbankan dan mekanisme pengalihan kepemilikan. Bagi pemula yang menginginkan produk yang lebih sederhana, deposito berjangka reguler biasanya lebih mudah dipahami dan dikelola karena proses pembukaan maupun pencairannya lebih sederhana.
Mulai Menabung di Fazza
Jika Anda mencari cara menabung berjangka yang lebih sederhana dan transparan tanpa rumitnya sertifikat fisik, Fazza menghadirkan produk tabungan berbunga tinggi dan tabungan berjangka yang bisa dibuka langsung dari aplikasi. Anda bisa memantau bunga, jangka waktu, dan pencairan kapan saja tanpa perlu khawatir kehilangan dokumen fisik. Unduh aplikasi Fazza melalui Play Store atau App Store untuk mulai merencanakan simpanan berjangka Anda.
